Minggu, 30 November 2014

Asal Usul Lulang Kebo Landoh

Asal Usul Lulang Kebo Landoh - ATAS jasanya menumpas agul-agul siluman Alas Roban, Saridin memperoleh hadiah dari penguasa Mataram, Sultan Agung, untuk mempersunting kakak perempuannya, Retno Jinoli.
Walau demikian, wanita itu menyandang derita sebagai bahu lawean. Tujuannya, lelaki yang menjadikannya sebagai istri sesudah berhubungan tubuh pasti wafat.
Dia mesti bertemu dengan siluman ular Alas Roban yang merasuk ke diri Retno Jinoli. Wanita trah Keraton Mataram itu resmi jadi istri sah Saridin serta dibawa ke Miyono berkumpul dengan ibunya, Momok.
Saridin membuka perguruan di Miyono yang kurun waktu relatif singkat menyebar luas hingga di Kudus serta sekitarnya. Meski sekian, Saridin berbarengan anak lelakinya, Momok, beserta murid-muridnya, terus bercocok tanam.
Juga sebagai tenaga bantu untuk membajak sawah, Momok minta dibelikan seekor kerbau punya seseorang warga Dukuh Landoh. Walau kerbau itu bisa disebut tak akan muda umurnya, tenaganya sangatlah dibutuhkan hingga nyaris tidak pernah berhenti dipekerjakan di sawah.
Mungkin saja lantaran terlampau diforsir tenaganya, satu hari kerbau itu jatuh tersungkur serta beberapa orang yang melihatnya berasumsi hewan piaraan itu telah mati. Tetapi waktu dirawat Saridin, kerbau itu bugar kembali seperti yang lalu.

Asal Usul Lulang Kebo Landoh

Dalam momen itu, permasalahan bangkit serta tegarnya kembali kerbau Landoh yang telah mati itu konon lantaran Saridin sudah memberi beberapa umurnya pada binatang itu. Dengan hal tersebut, apabila satu waktu Saridin yang bergelar Syeh Jangkung wafat, kerbau itu juga mati.
Sampai umur Saridin uzur, kerbau itu tetap masih kuat untuk membajak di sawah. Saat Syeh Jangkung di panggil menghadap Yang Kuasa, kerbau itu mesti disembelih. Yang aneh, walau telah bisa dirobohkan serta pisau tajam dipakai menggorok lehernya, nyatanya tak mempan.
Bahkan juga, kerbau itu dapat kembali berdiri. Peristiwa aneh itu bikin Momok memberi senjata peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher kerbau itu dapat dipotong, lalu dagingnya diberikan pada beberapa pelayat.
Kebiasan membagi-bagi daging kerbau pada beberapa pelayat untuk daerah Pati selatan, termasuk juga Kayen, serta sekitarnya sampai 1970 memanglah masih tetap berlangsung. Makin lama rutinitas keluarga orang yang wafat dengan menyembelih kerbau hilang.
Kembali ke kerbau Landoh yang sudah disembelih waktu Syeh Jangkung wafat. Lulang (kulit) binatang itu dibagi-bagikan juga pada warga. Tak tahu siapa yang mulai yakini, kulit kerbau itu tak dimasak namun disimpan juga sebagai piandel.
Barangsiapa mempunyai lulang kerbau Landoh, konon orang itu tak mempan dibacok senjata tajam. Bila kulit kerbau itu masih tetap komplit dengan bulunya. Kepercayaan itu mungkin muncul berawal saat kerbau Landoh disembelih, nyatanya tak dapat putus lehernya.

Hanya komentar yang membangun dan sesuai topik artikel saja yang akan saya tampilkan :)
Comments