Minggu, 30 November 2014

Potensi Gua Pancur di Pati

Gua Pancur adalah suatu gua di lokasi bebatuan kapur (karst) yang memiliki lorong sepanjang kurang lebih 7. 356 mtr. (7 km). Gua yang terletak di Desa Jimbaran Kecamatan Kayen dan mempunyai jarak dari kota Pati sekitar 20 km. Serta seperti lazimnya gua-gua yang terbentuk dengan cara alami dibalik perut Pegunungan Kapur Kapur Utara, gua ini dipenuhi oleh bebatuan stalaktit serta stalakmit, pasti jadi daya tarik sendiri.

Didalam gua ada aliran sungai dengan air yang mengalir keluar dengan kedalaman hanya pinggul orang dewasa, adalah mata air yang datang dari ujung gua terdalam, serta tidak pernah kering, walau musim kemarau panjang. Debet air yang keluar dai mulut gua kurang lebih 40 liter/detik

Sebagian daya tarik yang lain, aliran sungai dalam gua itu juga ada banyak type ikan besar ataupun kecil, yang tidak pernah dapat dipancing.

Potensi Gua Pancur di Pati



Didalam gua ini ada batuan kapur yang memiliki bentuk patung serupa seekor kuda yang oleh warga setempat dinamakan juga sebagai watu jaran (batu kuda).

Diluar gua di bangun suatu danau buatan yang sekalian bisa dipakai juga sebagai kolam pemancingan. Danau buatan ini menyimpan air yang keluar dari dalam gua untuk setelah itu dialirkan menuju sawah serta perkampungan warga setempat. Diatas danau ada suatu rumah makan.

Satu tahun lebih lantas tempat wisata ini pernah dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Pati bekerja bersama dengan pihak PDAM Kabupaten Pati. Pada th. 2004, Pemkab Pati juga menjalin kerja sama juga dengan H Amir, seseorang petani tambak bandeng air tamar, warga Desa Talun, Kayen.

Satu bulan waktu lalu saat saya jeng-jeng (jalan-jalan) kesana seluruhnya sudah beralih 180 derajat. Fasilitas serta prasarana yang sudah ada makin tak tertangani. Lingkungan batu karst di seputar guapun turut rusak kronis disebabkan penambangan phospat liar yang berlangsung seputar pertengahan 2008.

Di muka mulut gua yang semestinya telah tumbuh beberapa kumpulan pohon yang th. 1995 dahulu ditanam oleh Gubernur Jawa Tengah, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Propinsi Jawa Tengah serta Bupati Pati waktu itupun tak berbekas sekalipun. Terlebih pohon yang ditanam oleh beberapa (sebatas) Pramuka peserta Raimuna Daerah. Serta anehnya, tak ada satu pihakpun yang terasa ‘dirugikan’.

Hanya komentar yang membangun dan sesuai topik artikel saja yang akan saya tampilkan :)
Comments