Selasa, 11 Oktober 2016

Ritual Doa di Telapak Kaki Gunung Kendeng

"Sangat Diharapkan Industry Jasa Dibalik Konflik  Yang Menghimpit"

Ritual dibawah pegunungan Kendeng sudah biasa dilakukan masyarakat sekitarnya  seperti halnya pada saat acara tasyakuran, sedekah bumi manganan atas dasar nadar. Akan tetapi ritual doa telapak kaki yang dimulai dengan puasa Senin, Kamis hannya untuk keutuhan isi dari pegunungan kendeng sangatlah jarang dilakukan. Apalagi setelah puasa melakukan doa telapak kaki, dengan cara  menyusuri kaki gunung yang melewati 3 kecamatan yakni Sukolilo, Kayen dan Tambakromo dengan jalan kaki. Hal ini dilakukan oleh 4 orang  Azis Wisanggeni seniman dari Kayen dan Pupa Kayen yang terdiri dari Ari Widodo, Ahmad Roni dan Syaiful. Hal ini dilakukan karena melihat keadaan pegunungan Kendeng yang kondisinya sangat memprihatinkan. Setelah pohonnya habis kini didera konflik industry.

Pegunungan Kendeng Pati


Acara sedekah bumi yang sekarang hannya sebagi sarat tanpa didasari dari keinginan yang bermuara dari hati sangatlah minim. Melihat apa yang terjadi sekarang ini, acara sedekah bumi lebih mengarah pada hiburan dan foya-foya belaka. Lalu apa yang diharapkan oleh penduduk lereng Kendeng Utara?
Sebuah industry di wilayah pegunungan kendengan sangat diharapkan, akantetapi bukan industry barang melainkan melainkan industry jasa. Karena banyak sekali potensi alam yang belum pernah dijamah dan diexspos oleh media. Dari perjalanan yang dimulai dari Goa Wareh Sukolilo sampai Slening Tambakromo terdapat tempat wisata dan situs-situs yang sangat menakjubkan, apalagi melihat pohon-pohon besar berdiri tegap dan dibawahnya mengalir air bening.

Ada apa dilereng Kendeng?

Selain melakukan doa Telapak kaki keempat pelaku juga melakukan pendataan mengenai apa yang mereka lihat, menarik ataupun memprihatinkan. Susur Gunung Doa Telapak Kaki dimulai 21/1 jam 19.00 WIB. Meski cuaca kurang bersahabat para pelaku tetap melaksanakan apa yang sudah menjadi tekad mereka. Gerimis menjadikan niat pelaku tak medirikan tenda akan tetapi menginap dimusolla  sebelah barat Goa Wareh. tepat tengah malah ritual dimulai, pelaku yang dipimpin Azis Wianggeni mandi disumber yang keluar dari dalam goa, goa yang mempunyai dua pintu Dan stalagtit itu mengalirkan air yang sangat jernih. Jika lewat bawah air jernih akan menghantar kita pada stalagtit yang cukup indah dan biasanya masyarakat memanfaatkan air dari goa ini selain untuk mandi, mencuci, minum juga untuk mengairi sawah. Jika lewat pintu goa yang atas kita akan melihat stalagtit bergelantungan dilangit-langit goa.

Sebelum ke Goa Wareh kita disambut Goa Lanang dan Goa Wadon yang keberadaannnya malah ditengah desa. Goa tersebut berhadapan dan hannya dipisahkan badan jalan akses ke goa Wareh. Selain goa Lanang dan Wadon, sekitar 500 meter kearah timur dari goa wareh ada goa lagi yang belum diketahui namananya. didepan goa ini diberi penghalang duri bambu oleh masyarakat.
Perjalanan dilanjutkan kearah timur menyusuri kaki Gunung Kendeng, Pelaku menemukan sungai yang merupakan pembatas desa Gadu Mulyo kecamatan Sukolilo dan desa Jimbaran kecamatan Kayen. Ditempat ini pelaku menemukan sebuah mata air disamping sungai, diatas mata air tersebut tumbuh pohon yang cukup besar. Mata air ini diberi nama Kuang. Mata air Kuang bisa dikategori keramat, karena dibawah pohon yang ada diatas mata air itu ada bekas sesaji dan tempat pemujaan.
Masih dilokasi perbatasan kedua kecamatan terdapat sebuah tebing yang mengapit sungai, tebing ini dinamakan dengan jurang pengantin. melihat dari bentuk fisiknya tak seseram namanya, karena kedua tebing yang saling berhadapan itu sangat cocok bila digunakan untuk rockkembing ataupun panjat tebing. ketinggiannnya kurang lebih mencapai 50 meter.

Pelaku memanjatkan doa diatas mata Air Koang yang jernih, tepatnya dibawah pohon yang berukuran cukup besar “ Semoga Air, pohon, tanah dan batu tetap pada khittohnya. Semoga Allah memberi perlindungan pada mereka” sepenggal doa yang dipimpin Azis Wisanggeni, lalu ia mengambil air sumberan sebagai syarat ritual.

Memasuki daerah Jimbaran kec Kayen kami menyinggahi Sumber Dhodho. Selain sumber disini juga terdapat Punden yang biasanya digunkan ritual masyarakat Jimbaran. Sedangkan untuk mata air yang keluar dari bawah pohon yang cukup besar diatasnya, digunakan masyarakat untuk mengairi sawah dan mengairi kolam yang membentang di depan Sumber Dhodo. Disinilah pelaku mengambil air ketiga.

Perjalanan dilanjutkan kearah timur agak kedalam hutan yaitu ke Watu  Lawang, Batuan ini menyerupai jembatan akan tetapi batuan ini terbentuk secara alami, Bila dicermati Watu Lawang seperti pintu goa namun tak berlorong.
Disebelah utara Watu Lawang terdapat Goa yang belum  diketahui namanya. Goa ini mempunyai kedalaman lorong sekitar 20 meter. Pada bagian atap terdapat bekas   sarang burung Sriti. Sedangkan pada lantai dasar terdapat galian Fospat illegal, sehingga orang yang masuk kedalam goa harus betul-betul berhati-hati. Galian Fospat itu menjadikan lantai goa berlubang-lubang, seperti jurang dibawah goa.

Sudah enam jam pelaku melakukan perjalanan dan ritual  pelaku doa telapak kaki berjalan kearah utara menuju ke Goa pancur, untuk memasak makanan ala kadarnya.  Goa Pancur merupakan goa yang hampir mempunyai kesamaan dengan Goa Wareh.  Air dari stalagtit menetes  dan bentukan stalagtit yang berada dilangit-langit goa sangatlah mempesona. sedangkan dibagian bawah menglir air yang cukup bening menuju kekolam pemancingan yang dulu pernah dibangun sarana dan prasarana pariwisata oleh pemerintah, akan tetapi karena tidak ada perhatian khusus dari prasasana wisata tersebut akhirnya mangkrak dan rusak. Termasuk kolam didepan Goa Pancur yang kini ditumbuhi rerumputan.   Air Sumber untuk ritual yang keempat diambil dari sini.

Setelah memasuki wilayah desa Slungkep Kecamatan Kayen, tampak sungai membentang. Disungai tersebut nampak serpihan bendungan yang katanya baru dibangun satu tahun. tetapi setelah bangunan tersebut diterjang banjir sekali langsung ambrol. Sampai sejauh ini belum ada tindak lanjut dari pemerintah.

Perjalanan dilanjutkan kearah timur menuju desa Sumbersari, dalam perjalanan Para pelaku ritual doa telapak kaki menemukan Punden Pule. Mungkin nama punden ini diambil dari pohon Pule yang berada ditempat tersebut. Pohonnya sangat besar dan rindang. selain punden tersebut kira-kira jarak 1 kilo meter derdapat mata air Mangin dimana mata air ini digunakan masyarakat untuk mengaliri sawah petani yang berada didataran tinggi. Cara pengairannya dimata air tersebut dipasangi pompa air.

Lorodan Semar, tempat ini berada disebelah selatan desa Sumbersari dukuh Sering. Bila kita lihat tempat ini seperti layaknya air terjun yang berundak, bahkan undakan yang tersusun sampai ke puncak sampai Sembilan. Sangat menarik bila musim hujan tiba masalahnya, sungai ini hannya sungai musiman bila kemarau air yang mengalir hannya kecil.
Lorodan Semar, tempat ini berada disebelah selatan desa Sumbersari dukuh Sering. Bila kita lihat tempat ini seperti layaknya air terjun yang berundak
Lorodan Semar Sumbersari

Ziarah kemakam masal komunis,  Makam ini berada disebelah timur dukuh Sering. Dari dukuh tersebut sekitar 700 meter kearah timur. “ kami melakukan  ziarah bukan dari sejarah, dimana orang yang dibantai masal pada waktu itu belum tentu semuanya bersalah” Tandas Azis.
Sekitar pukul 17.15 WIB perjalanan dilanjutkan kearah timur, memasuki desa Brati. Sampai di Losan pelaku doa telapak Kaki yang terdiri Dari Azis Wisanggeni Sebagai coordinator time, Ari Widodo ketua, Ahmad Roni Dokuntasi Dan Syaiful sie akomodasi  sampai disitus sejarah ril lokomotif yang membentang diatas sungai. Ril lokomotif ini dibangun oleh Belanda sebagai alat transportasi pengangkut kayu.

Dalam perjalanan dikaki gunung Kendeng wilayah Brati sebetulnya banyak situs yang ingin dikunjungi akan tetapi karena waktu sudah hampir malam, akhirnya hannya berkunjung ke beberapa goa. diantaranya goa pari, goa gong, mata air Kali Gede dan membuat camp di punden Ronggoboyo. Dironggo boyo sendiri merupakan punden dengan mata air yang biasa digunakan masyarakat untuk mandi, mencuci Dan mengaliri sawah.

Setelah mendapatkan 7 air dari mata air yang berbeda yaitu dari Goa wareh, Sumur Koang, Sumber Dhodo, Gua Pancur, Sumber Mangin , Kali Gede dan Ronggoboyo, perjalanan dilanjutkan wilayah kecamatan Tambakromo pada keesokaan harinya. Sebetulnya banyak sekali situs, tempat bersejarah dan sumber mata air yang belum sempat dikunjungi karena lokasi yang harus memaksa masuk kedalam, faktor waktu dan kurangnya sumber dari masyarakat.
Penulis : Azis Wisanggeni

Hanya komentar yang membangun dan sesuai topik artikel saja yang akan saya tampilkan :)
Comments